SUKOHARJO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo terus mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis desa sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Pemkab Sukoharjo menargetkan sebanyak 30 desa wisata terbentuk dan ditetapkan hingga akhir 2026. Target tersebut menjadi bagian dari dukungan daerah terhadap program 1.000 Desa Wisata yang digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Sukoharjo, Zainal Khoiri, mengatakan saat ini terdapat 22 desa wisata yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Sukoharjo.
Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, menjadi desa wisata terbaru yang memperoleh penetapan melalui SK Bupati pada awal Juni 2026.
“Saat ini ada 22 desa wisata di Sukoharjo. Desa wisata terakhir yang mendapat SK Bupati adalah Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, pada awal Juni,” kata Zainal, Rabu (1/7/2026).
Ia mengatakan, Disporapar menargetkan penambahan delapan desa wisata baru hingga penghujung 2026. Dengan demikian, jumlah desa wisata di Kabupaten Sukoharjo diharapkan mencapai 30 desa.
Menurut Zainal, pengembangan desa wisata tersebut merupakan tindak lanjut dukungan Pemkab Sukoharjo terhadap program 1.000 Desa Wisata yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Kami mendukung program 1.000 desa wisata yang didengungkan Pemprov Jateng. Program ini kami tindak lanjuti di tingkat daerah,” ujarnya.
Zainal optimistis target penambahan desa wisata dapat tercapai. Pasalnya, hampir setiap desa di Kabupaten Sukoharjo memiliki potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Potensi tersebut meliputi wisata alam, budaya, sejarah, kuliner, pertanian, hingga berbagai bentuk kearifan lokal yang menjadi karakteristik masing-masing desa.
Salah satu desa yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata adalah Desa Pranan, Kecamatan Polokarto.
Desa tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu sentra jambu air. Selain mengembangkan potensi tersebut, Pemerintah Desa Pranan juga mulai mengembangkan konsep wisata edukasi berbasis pertanian.
Di wilayah tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) mengelola budidaya berbagai jenis sayuran dengan memanfaatkan pupuk organik yang berasal dari kotoran sapi di kandang komunal.
Konsep tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman wisata, tetapi juga dapat mempelajari praktik pertanian ramah lingkungan serta pengelolaan limbah organik.
“Potensi seperti ini bisa menjadi daya tarik wisata karena pengunjung tidak hanya berwisata, tetapi juga belajar mengenai pertanian dan pengelolaan lingkungan,” jelas Zainal.
Melalui pengembangan desa wisata, Pemkab Sukoharjo berharap setiap desa mampu mengoptimalkan potensi lokal secara berkelanjutan. Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendorong munculnya berbagai kegiatan ekonomi baru di tingkat masyarakat.
Selain meningkatkan daya tarik pariwisata daerah, desa wisata juga diharapkan mampu membuka peluang usaha, menggerakkan sektor ekonomi kreatif, serta meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
Dengan pengelolaan yang melibatkan masyarakat secara aktif, sektor pariwisata berbasis desa diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sukoharjo.



























