SUKOHARJO – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, mengajak masyarakat, khususnya pelajar, untuk memahami pengelolaan keuangan sejak dini. Edukasi literasi keuangan dinilai penting agar generasi muda mampu memanfaatkan berbagai layanan finansial secara bijak, terutama di tengah semakin mudahnya akses layanan keuangan digital.
Menurut Eko Sapto, tingginya tingkat inklusi keuangan masyarakat belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai produk dan layanan keuangan.
Hal tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat literasi keuangan, termasuk di lingkungan sekolah.
“Ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan finansial, terutama layanan keuangan digital, mereka harus memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup agar bisa menentukan pilihan secara bijak dan tepat,” kata Sapto dalam kegiatan peringatan Bulan Literasi Keuangan (BLK) dan Hari Indonesia Menabung (HIM) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sukoharjo, Jombor, Kecamatan Bendosari, Senin (31/8/2026). (*)
Dia mengingatkan, kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital harus disertai pemahaman mengenai manfaat, risiko, serta konsekuensi dari setiap produk yang digunakan.
Tanpa pengetahuan yang memadai, masyarakat berpotensi menghadapi persoalan finansial yang dapat berdampak pada kondisi ekonomi mereka.
Karena itu, menurut Sapto, edukasi keuangan tidak cukup hanya diberikan kepada masyarakat dewasa. Pemahaman mengenai pengelolaan uang perlu ditanamkan sejak usia dini, termasuk kepada anak-anak di tingkat sekolah dasar.
“Kalau salah memilih obat bisa sakit, tetapi salah memilih akses finansial, terutama finansial digital, juga bisa membawa seseorang jatuh dalam persoalan ekonomi. Karena itu, edukasi ini penting dan harus dimulai sejak dini,” ujarnya.
Pemkab Sukoharjo berharap penguatan literasi keuangan dapat membentuk generasi muda yang lebih cermat dalam mengambil keputusan finansial. Dengan demikian, para pelajar tidak hanya mengenal berbagai layanan keuangan, tetapi juga memahami cara mengelola uang secara bertanggung jawab. 
Menurut Mufid, pelajar menjadi salah satu kelompok penting yang perlu mendapatkan edukasi keuangan. Sebab, kebiasaan mengelola uang dengan baik perlu dibangun sejak usia dini agar menjadi bagian dari karakter dan pola hidup ketika mereka dewasa.
“Salah satu sikap mental yang perlu dibangun adalah budaya menabung dan kedisiplinan dalam mengelola keuangan. Bagaimana kebiasaan itu bisa dilakukan sejak awal sehingga menjadi budaya,” jelasnya.
Mufid menyebut tingkat literasi keuangan nasional berada di angka 69,57 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan pada segmen pelajar sekitar 62,72 persen.
Data tersebut menunjukkan tingkat literasi keuangan pelajar masih berada di bawah angka nasional. Meski demikian, dia menilai selisih tersebut tidak terlalu jauh dan perlu diimbangi dengan edukasi yang berkelanjutan.
Salah satu hal yang perlu ditanamkan kepada pelajar adalah pemahaman bahwa pengelolaan keuangan tidak harus menunggu seseorang memiliki penghasilan sendiri.
“Anak-anak selama ini cenderung menganggap uang yang diterima hanya untuk dibelanjakan. Padahal sejak awal perlu dikenalkan bahwa sebagian uang bisa dialokasikan untuk ditabung,” ucapnya.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Jateng turut membuka layanan simpanan bagi para siswa. Namun, Mufid menegaskan kegiatan itu tidak semata-mata berorientasi pada pembukaan rekening, melainkan juga membangun kesadaran mengenai pentingnya menabung.
Para siswa diharapkan dapat belajar mengendalikan pengeluaran, menyisihkan sebagian uang yang dimiliki, serta merencanakan kebutuhan di masa mendatang.
Menurutnya, budaya menabung perlu dibangun sebagai pola pikir dan kebiasaan, bukan sekadar aktivitas menyimpan uang. Kedisiplinan dalam mengelola keuangan sejak dini diharapkan dapat membantu pelajar menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab.
Penguatan literasi keuangan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sukoharjo tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah membangun karakter dan kemandirian peserta didik, sekaligus mendukung program pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kualitas pendidikan.
Melalui kegiatan tersebut, Pemkab Sukoharjo bersama OJK dan industri jasa keuangan berharap para pelajar semakin memahami pentingnya mengelola keuangan secara bijak, termasuk dalam menghadapi perkembangan layanan finansial digital.
“Menabung tidak harus menunggu sudah bekerja atau memiliki penghasilan. Yang paling penting adalah membangun mindset dan kebiasaan mengelola keuangan sejak awal,” pungkas Mufid.(Ang)
Home Pemerintahan Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo Ajak Pelajar Bijak Kelola Keuangan Sejak...




























