SUKOHARJO – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo mendorong pengerukan sedimentasi saluran irigasi dilakukan secara berkelanjutan dan diperluas ke wilayah lain yang mengalami persoalan serupa.
Hal tersebut disampaikan Eko Sapto saat meninjau langsung proses pengerukan sedimentasi saluran irigasi sekunder di wilayah Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (21/8/2026).
Pengerukan saluran irigasi tersebut dilakukan oleh para petani yang tergabung dalam Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A) Ngupoyo Roso bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo.
Dalam peninjauan tersebut, Eko Sapto didampingi Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) sekaligus Pelaksana Harian (Plh) Kepala BBWS Bengawan Solo Rizhali Triutomi Sahan serta anggota DPRD Sukoharjo asal Kecamatan Mojolaban, Dahono Marlianto.
Eko Sapto mengatakan, pengerukan sedimentasi merupakan salah satu bentuk penanganan persoalan irigasi yang dapat dilakukan melalui kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, dan BBWS Bengawan Solo.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya diperlukan di Kecamatan Mojolaban, tetapi juga dapat diterapkan di wilayah lain apabila ditemukan saluran irigasi dengan kondisi serupa.
“Kegiatan pengerukan sedimen di saluran irigasi bisa dilakukan di lokasi lain dengan kondisi serupa. Tidak hanya di wilayah Mojolaban, melainkan daerah lain di Sukoharjo,” ujar Eko Sapto.
Ia menegaskan, keberadaan jaringan irigasi yang berfungsi secara optimal menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian. 
Karena itu, Eko Sapto berharap pengerukan sedimentasi tidak hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek. Pemeliharaan saluran secara berkala juga perlu dilakukan untuk mencegah penumpukan sedimentasi kembali terjadi.
“Pemeliharaan secara berkala juga penting sehingga kondisi saluran tetap terjaga dan distribusi air untuk kebutuhan pertanian dapat berjalan optimal,” katanya.
Saluran Irigasi Dibersihkan Setelah 15 Tahun
Saluran irigasi sekunder di wilayah Mojolaban tersebut sebelumnya mengalami penumpukan sedimentasi berupa material tanah dalam jumlah cukup banyak.
Kondisi itu terjadi setelah saluran tidak mendapatkan pembersihan selama kurang lebih 15 tahun.
Melihat kondisi tersebut, para petani kemudian berinisiatif melakukan pembersihan secara bersama-sama dengan menggandeng BBWS Bengawan Solo dan Pemkab Sukoharjo.
Ketua GP3A Ngupoyo Roso, Tridadi, mengatakan sedimentasi yang menumpuk di dasar saluran membuat kapasitas saluran dalam mengalirkan air menjadi berkurang.
Kondisi tersebut semakin dirasakan ketika memasuki musim kemarau. Pada periode tersebut, kebutuhan air untuk mengairi lahan pertanian meningkat.
“Para petani berinisiatif melakukan pengerukan sedimentasi guna meningkatkan kelancaran distribusi air ke lahan pertanian saat musim kemarau,” kata Tridadi, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, saluran tersebut memiliki fungsi penting karena alirannya melintasi sejumlah wilayah. Jaringan irigasi itu melewati Gadingan, Plumbon, Demakan, Palur hingga wilayah yang terhubung dengan kawasan Karanganyar dan Sragen.
Pengerukan dilakukan sepanjang lebih dari satu kilometer. Pembersihan dikerjakan secara bertahap pada bagian saluran yang mengalami penumpukan sedimentasi.
Tridadi mengatakan, setelah sedimentasi diangkat, terdapat potensi tambahan pasokan air untuk lahan pertanian sekitar 91 hektare.
“Diperkirakan luas lahan pertanian bertambah sekitar 91 hektare setelah sedimen di saluran irigasi dibersihkan. Pengerukan sedimen di saluran irigasi dilakukan sejak pertengahan Juli 2026,” ujarnya.
Dengan kondisi saluran yang lebih bersih, petani berharap distribusi air menuju lahan pertanian dapat berjalan lebih lancar dan merata.
Bagi petani, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan produktivitas pertanian, khususnya ketika musim kemarau berlangsung.
Tambahan pasokan air tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan luas tanam padi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) sekaligus Plh Kepala BBWS Bengawan Solo, Rizhali Triutomi Sahan, mengatakan pengerukan sedimentasi di Mojolaban merupakan bagian dari Gerakan Irigasi Bersih yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan Umum.
Program tersebut menjadi salah satu upaya menjaga kondisi jaringan irigasi agar tetap berfungsi dengan baik dalam mendukung kebutuhan air sektor pertanian.
Menurut Rizhali, penumpukan sedimentasi di dasar saluran dapat mengurangi kapasitas saluran dalam menampung dan mengalirkan air.
Karena itu, pembersihan saluran irigasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama pada jaringan yang telah mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
“Gerakan Irigasi Bersih merupakan salah satu upaya untuk menjaga jaringan irigasi agar tetap berfungsi dengan baik. Kolaborasi dengan petani dan pemerintah daerah juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya,” kata Rizhali.
Ia berharap kegiatan serupa dapat diterapkan di sejumlah wilayah lain yang mengalami persoalan sedimentasi pada jaringan irigasi.
Pengerukan di Mojolaban sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, dan BBWS Bengawan Solo dalam menjaga infrastruktur pengairan untuk mendukung produktivitas pertanian di Kabupaten Sukoharjo.
Dengan jaringan irigasi yang terpelihara dan distribusi air yang lebih optimal, kebutuhan pengairan lahan pertanian diharapkan dapat terpenuhi, terutama saat memasuki musim kemarau. (Ang)
Home Kemasyarakatan Plt Bupati Sukoharjo Dorong Gerakan Bersih Irigasi, Saluran 15 Tahun Tak Dibersihkan...





























